GE FOUNDATION SCHOLAR - LEADERS PROGRAM 2008

Yes We are Leaders !!!

Rabu, 07 Oktober 2009

Matematika Laku Pasaran (yacob.ivan)


Kayak nama filem aja, lah pertama juga bingung je, apaan nih?


12 – 15 Agustus 2008


Pada awalnya, aku nggak diijinin buat ikutan acara ini. Acara ini bukan acara HIMATIKA secara resmi, tapi emang program dari angkatan 2006 buat studi ekskursi alias jalan-jalan ke luar Jogja buat menimba ilmu lain atau mencari pengalaman di tempat-tempat usaha berkelas.



Jabrik, jalan bareng anak matematika 2008. Itulah definisi Jabrik. Tujuan kita adalah perusahaan-perusahaan yang berkelas yang terletak di Bandung dan Jakarta. Kami berangkat tanggal 12 malem. Ada 50 orang lah yang ikutan. Dengan biaya Rp350.000,00, kami berangkat beramai-ramai menuju ke Jawa Barat. Malam pertama, kami nginep di tempat kita duduk saat itu, tepatnya di bus. Enak tho? Duduk di bus, apalagi duduk di tempat paling depan dekat tour-guidenya.



Tujuan pertama kami adalah makan, kami makan di dekat Garut. Diteruskan dengan acara membasahi diri alias mandi. Tapi tempat itu bukan lah perusahaan yang kami tuju. Perusahaan pertama yang kami tuju adalah Asuransi Wahana Tata, yang terletak di kota Bandung nan konon dingin, tapi tidak terlalu dingin. Di sini, kami banyak bercakap-cakap mengenai peluang kerja dan manfaat matematika di dunia asuransi. Yah di bidang research nya lah setidaknya. Sambutan di tempat ini begitu hangat. Sepertinya paling hangat di antara yang lainnya. Saking hangatnya, sampai-sampai kami lupa kalau Bandung itu kotanya konon dingin.



Masih di Bandung, kami menuju ke kebun binatang. Tapi bukan itu tempat tujuannya, melainkan di Badan Tenaga Nuklir Nasional Bandung. Kebetulan di tempat ini sedang ada open house, jadi kami bisa masuk-masuk hingga ke reaktornya. Peluang kerja matematika kayaknya kecil deh, mungkin kebanyakan dari kimia dan fisika. Di sini memang tempatnya para pinter-pinter itu melakukan riset dan mengembangkan zat-zat radioaktif dalam berbagai bidang. Banyak juga manfaat dari nuklir itu sendiri, antara lain di bidang kesehatan dan pembangkit energi. Sayang, dengan sebesar potensi energi yang tersimpan dalam nuklir, aplikasi energi tersebut belum dapat dibudidayakan di tanah Jawa ini. Banyak masyarakat yang masih meragukan keamanan dari nuklir itu sendiri. Jadi teringat sama sebuah alat yang mirip permainan joget Dance-dance Revolution yang ada di Timezone atau GameFantasia. Alat ini digunakan untuk mendeteksi apakah kita terkena radiasi atau tidak. Aku lupa nama alatnya. Aku coba naikin alat ini, terus aku coba gerakin kakiku sambil tanganku masuk ke lubang khusus. Ternyata muncul suara aneh, ada tulisan “Bebas Radiasi”. Oh, berarti aku belum jadi X-men.



Beranjak dari Batan, kami menuju ke Puncak. Bagi orang-orang Jakarta, lokasi dingin di Puncak menjadi salah satu objek wisata dan tempat istirahat yang cocok. Maklum lah, Jakarta panas sibuk begitu, mau cari hiburan yang seger cuma di mall. Itu pun tetep sesak dan bau rokok. Tapi di sini masih relatif nyaman. Tanaman teh menghiasi sisi bukit. Aku pun mengambil foto di sana. Masuknya mbayar loh, kayaknya ilegal. Karena sudah maghrib, yang lain pada beribadah di masjid.


Setelah puas dengan pemandangan sore di Puncak, kami meneruskan perjalanan ke Jakarta dan menginap di Gelora Bung Karno. Kalo nggak salah, kami tidur di asrama atlet-atlet. Busyet dah, dapet kamar yang pintu kamar mandinya nggak ada. Bahaya, bisa diintip dari luar. Makanya, aku mandi dengan penuh perasaan tidak tentram. Berhubung udah cukup lelah, aku mau tidur aja dulu. Daripada besok ngantuk.



Keesokan harinya, sepertinya hari yang cukup ditunggu-tunggu. Kenapa? Ya entahlah, kami sudah pada siap dan berwajah segar menyiapkan hari ini untuk melanjutkan perjalanan kami. Tujuan kami selanjutnya (yang tentu saja belum menjadi acara puncak) adalah ke LIPI, alias Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tempat ini didirikan oleh pemerintah Indonesia guna melakukan riset-riset yang berhubungan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Riset keren terakhir yang dilakukan LIPI waktu itu adalah penanggulan dan pendeteksian gempa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dengan alat yang diciptakan oleh ahli geologi LIPI, gempa dan pusat gempa dapat diramalkan secepatnya sehingga evakuasi terhadap calon korban gempa dapat dilakukan dengan cepat. Sambil melakukan interaksi dengan para pembicara, sebagian sudah ada yang mupeng pengen cepet-cepet ke tujuan acara Jabrik. Oh ya, pembicaranya ada yang wajahnya mirip Lionel Luthor di Smallvile. Sampai-sampai aku dibilang macem-macem gara-gara tanya-tanya yang sesuatu yang membuat lama pembicaraan ke pembicara-pembicaranya. (Kayaknya banyak perulangannya tuh).


Udah pada bosen dengan sambutan di LIPI. Yah, mungkin pada bosen kali sama orang-orang pinter. Makanya, kami segera beranjak ke acara puncak kami. Mana lagi kalo bukan Dunia Fantasi!!!



Sebenarnya banyak yang bisa diceritain di sini. Kami nyobain wahana-wahana yang tersedia. Yang paling aku suka di Kora-kora. Apa itu? Kora-kora adalah kapal yang disetting sedemikian rupa hingga berayun-ayun. Tempat duduk yang paling seru adalah di tempat yang paling belakang. Apalagi kalo udah nyampe di puncak, terus turun, rasanya seperti jatuh bebas. Uidih, asyik gila. Aku sampe naik alat ini 3 kali.


Yang aku suka kedua adalah Kicir-kicir. Apa lagi itu? Intinya suruh duduk terus diputer jempalikan sampai mana-mana. Bener-bener bikin pusing ma sedikit jantungan. Yang ketiga, apa lagi kalau bukan Tornado. Alat ini berguna untuk memperlakukan manusia seperti sate. Digantung, diputer-puter kayak di pemanggangan. Mantab.


Tidak seperti ketiga wahana yang sudah disebutkan, wahana seperti Ontang-anting, Niagara-gara, Biang Lala, Halilintar, Tilt House, dll tidak terlalu meriah. Tapi ndak apa-apa, berayun bersama di wahana-wahana itu memang rasanya. Kalau ada temen emang asyik sih. Jam 6, sepertinya kami harus segera beranjak dari tempat itu. Kami mungkin sial-sial beruntung karena dapet tiket yang lebih mahal dari hari-hari biasanya. Kenapa? Soalnya, dapet tiket ++ untuk nonton Police Academy 1.


Peminat acara ini banyak, sampai-sampai dibagi beberapa shift dan tempat duduk. Ceritanya, ada perampokan di bank. Kayaknya dilakukan sama perempuan-perempuan. Gila banget, mereka bisa parkir, pas ngedrift, nyetir miring. Melakukan atraksi bersama kendaraan mereka. Sungguh di luar dugaan. Ada aja yang mau nglakuin itu demi mendapatkan uang. Andaikan tiketnya Rp25.000,00 (karena saya rasa lebih mahal segitu dari harga biasa), itu aja baru yang kursi reguler, misal ada 400 kursi di sana (bisa lebih), sudah bisa meraup 10 juta dalam waktu 45 menit – 1 jam saja. Ditambah ada berapa shift sehari, belum lagi yang kursi-kursi VIP. Dan itu berlangsung lebih dari satu bulan. Wow. Memang mewah dan mahal sekali. Untung saja, ikutan Jabrik ini. Karena hari itu kalau tidak salah adalah hari terakhir penampilan Police Academy. Atraksi ini diakhiri dengan tertangkapnya penjahat yang tidak jadi meloloskan diri menggunakan helikopter. Malangnya penjahat, padahal penjahatnya lebih jago ketimbang polisinya.


That was the end of our journey. Kami harus balik ke Jogja lagi, tapi sekarang lewat pantura. Jadi lebih lama deh. Ndak apa-apa lah, kami terhibur kok. Aku pulang dengan badan penuh rasa capek. Apa yang aku lakukan, melanjutkan mimpi semalam. Bye...



Rabu, 23 September 2009



visitme: http://yacob-yukihiro.web.ugm.ac.id/
best recommended browser: Opera

Tidak ada komentar:

Posting Komentar